Setelah bingung mau memposting tentang apa, tiba-tiba hape saya berdering
seksi.
Ternyata ada
sms masuk dari adik ketemu gedhe saya, bunyinya “kak, akuh bingung. Pacarku
mau pindah ke Manado, akuh ga siap & ga mau LDRan” #kemudianhening.
Saya tau
kenapa dia bertanya pada saya. Ya betul, saya adalah pelaku LDR #jengjengjeng. Saya
sebetulnya belum terlalu lama LDR, baru hampir 3 tahun kurang 4 bulan 3 hari 45
menit dan 17 detik.. dan selama itu pula saya banyak mengalami suka duka dalam
berhubungan.
Kemudian saya bertanya pada adik saya, “apa yang kamu tidak siapkan dalam
ber LDR? Padahal LDR seru hlo!” tapi dibantah sama adik saya “seru apaan? Ketemu
aja ga bisa, gimana bisa seru?”
Nah, ini lho
salahnya anak zaman sekarang, belum juga
nyoba, belum juga njalanin, tapi udah nge-judge duluan. Kali ini saya akan
bahas mengenai LDR yang pernah saya alami..
Berikut beberapa hal yang yang mungkin identik pada pelaku LDR:
1. Rawan Ditikung atau menikung.
Yap!! Pertanyaan pertama setelah
saya jawab kegelisahan adik saya tadi adalah “kak, gimana kalao nanti dia
disana dia punya pacar lagi, akuh ga mau!!” dan para pelaku LDR memang rawan
terhadap “tikungan” tapi lalu saya juga berfikir bahwa “tikungan” tersebut
tidak hanya dialami para pelaku LDR, banyak juga bukan pelaku LDR tapi juga
terjerumus “tikungan”. Pada intinya bukan masalah jarak atau apa, tapi memang
bahwa rasio kemungkinannya lebih besar terjadi pad pelaku LDR.
2.
Komunikasi
Beruntunglah kalian yang ber-LDR
pada masa sekarang. Bisakah kalian bayangkan bila kalian ber-LDR pada 7-10
tahun yang lalu? Atau pada saat sebelum Negara api menyerang bumi? Apa kalian
masih sanggup menulis beberapa lembar surat, lalu dengan setia menunggu
balasannya beberapa minggu kemudian? Saya yakin kalian pasti bisa. Bisa gilaa
tepatnya. Tapi masih ada yang berfikiran “gimana ntar komunikasinya?” “kalo ada
masalah gimana?” “kalo kangen gimana?”. Helooow, kalian kenal henpon kan? Kenal
jejaring sosial jan? kenal skype kan? Kok masih kurang nerima, ada juga
harusnya kalian bersyukur akan adanya hal tersebut. Tinggal bagaimana kalian
mepergunakan waktu dan fasilitas yang ada itu seEFEKTIF mungkin. Ga perlu
sering, yang penting EFEKTIF. Tapi syukur kalo bisa sering dan efektif.
4. Anti
mainstream
Mungkin para pelaku LDR bisa
disebut anti mainstream, atau bukan seperti pacaran yang biasa. Pengen ketemu
aja harus besusah payah menyusun rencana dan anggaran. Tidak seperti orang
pacaran yg mainstream yang pengen ketemu
ya tinggal samperin ke rumah 30 menit nyampe. Apalagi untuk LDR tingkat
XXL, mungkin bisa dihitung jari deh ketemuannya. Belum lagi kalo ada masalah,
para LDR fighters harus cukup dewasa untuk menyelesaikannya lewat pesan
singkat, atau telepon. Mungkin ini yg membedakan dengan system pacaran biasa,
yaitu para pelaku LDR dituntut lebih
dewasa, bijaksana, dan matang dalam berfikir. Karena sedikit salah penangkapan
maksud bisa berujung pertengkaran.
5. Surprise
Pernah nggak waktu lagi pulang
sekolah tiba-tiba dia udah ada dirumah lagi ngobrol sama orang rumah? Atau udah
sedih bakal ngerayain ulang tahun sendiri, tapi pas tengah malem ternyata dia
datang bawa hadiah & kue ulang tahun? Rasanya sudah pasti tak bisa
digambarkan lagi. Memang tak seberapa, tapi pasti jauh bermakna dari surprise-surprise
mainstream. Dan itu jarang didapatkan pasangan mainstream. Dan kalian yang menjadi
pelaku LDR, berikanlah sedikit kejutan untuk pasanganmu, pasti hubunganmu jauh
lebih erat dari yang sebelumnya.
Hoaaamm... sebetulnya masih banyak lagi yang
bisa saya bagikan kepada teman-teman semua, mungkin teman bisa menambahkan
pengalaman masing-masing pada kolom comment dibawah. Lain kali bakal saya
sambung lagi masalah LDR ini..
*ps : buat para pelaku LDR, tetep semangat yaa. banyak kok LDR yang happy ending..